Penambahan Etanol pada BBM, Solusi Ramah Lingkungan Menurut Kaprodi Kimia Unigoro


Banner Post

BOJONEGORO - Rencana pemerintah menambahkan 10 persen etanol (E10) ke dalam bahan bakar minyak (BBM) dinilai sebagai langkah positif untuk menekan konsumsi energi fosil dan mengurangi emisi karbon. Pandangan tersebut disampaikan oleh Kaprodi Kimia Universitas Bojonegoro (Unigoro), M. Bakhru Thohir, S.Si., M.Sc., Kamis (16/10/2025).

Menurutnya, kebijakan ini merupakan upaya pemerintah dalam memperluas penggunaan energi terbarukan, khususnya bioetanol yang berasal dari sumber daya alam.

“Lebih-lebih jika etanolnya berasal dari alam atau bioetanol. Sehingga ada semacam konversi agar jumlah konsumsi BBM berbahan fosil turun, lalu etanolnya masuk. Kebijakan ini menjadi ramai diperbincangkan karena masyarakat sebenarnya belum siap,” jelasnya.

Bakhru menjelaskan, etanol bukanlah bahan baru dalam dunia energi. Zat ini sudah lama digunakan sebagai bahan bakar, seperti pada spirtus yang dapat menyala ketika terkena api. Namun, penerapan campuran E10 pada kendaraan tidak bisa dilakukan langsung karena mesin harus diatur agar kompatibel dengan campuran tersebut serta membutuhkan bahan aditif tertentu.

“Etanol sebenarnya bisa menaikkan nilai oktan karena nilainya di atas RON 100, lebih tinggi dibanding Pertalite maupun Pertamax. Semakin tinggi nilai oktannya, bahan bakar akan lebih tahan terhadap tekanan dan panas mesin, sehingga proses pembakaran bisa lebih efisien,” paparnya.

Meski demikian, ia mengakui bahwa penambahan etanol juga berpotensi menimbulkan korosi pada mesin kendaraan. Hal ini disebabkan oleh sifat kimia alkohol yang memiliki ikatan hidrogen dan mudah bereaksi dengan uap air.

“Kenapa bisa membuat korosi? Karena alkohol memiliki ikatan hidrogen yang khas seperti air. Jika ada uap air yang masuk ke bahan bakar, bisa menyebabkan korosi. Namun hal ini dapat diantisipasi dengan modifikasi mesin menggunakan material antikarat atau penambahan aditif,” ujarnya.

Bakhru menambahkan, di sisi lain, penggunaan etanol justru dapat meningkatkan pembakaran yang lebih sempurna. Pembakaran sempurna akan menekan produksi gas karbon dioksida (CO₂) yang menjadi salah satu penyebab utama pemanasan global.

Melalui kebijakan ini, diharapkan Indonesia dapat mempercepat transisi menuju energi bersih dan ramah lingkungan, sekaligus mendorong riset inovatif di bidang kimia energi untuk mendukung keberlanjutan lingkungan di masa depan. (din/lug)